Selasa, 01 November 2011

proposal penelitian penetasan

 
PROPOSAL PENELITIAN
JURUSAN PETERNAKAN PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU

JUDUL    : PENGARUH LAMA LAMPU MATI PADA MESIN TETAS TERHADAP   DAYA TETAS AYAM POTONG LOKAL (APL)
NAMA     : PUTRA KARYADI
NPM         : E1C007011
PU             : Ir. Hardi prakoso, Mp
PP             : Ir. Warnoto, Mp


I. PENDAHULUAN
            Dewasa ini teknologi penetasan telah sanggup menciptakan alat penetas buatan yang dikenal dengan mesin penetas telur (incubator), yang sepenuhnya dapat meniru tingkah laku induk ayam selama priode mengeram. Mesin penetas dibuat sebagai pengganti penetasan secara alami (natural incubator), untuk memperoleh sejumlah anak yang berkualitas tinggi dalam waktu bersamaan. Jenis mesin tetas dibuat secara beragam, mulai dari mesin yang paling canggih sampai pada mesin yang paling sederhana (tradisional). Keberhasilan mesin tetas sangat ditentukan oleh kestabilan temperature dalam mesin tetas. Dalam penggunaan mesin tetas skala kecil untuk penetasan ayam kampung masih dihadapkan pada masalah rendahnya daya tetas dikarenakan salah satu kendala yaitu matinya listrik (PLN OFF) ketika proses penetasan dilakukan.
Rasyraf (1995) menyatakan bahwa suhu yang ideal penetasan adalah antara 38,30C - 40,50C. Sedangkan kelembaban di dalam mesin tetas antara 60%-70%. Listiyowati dan roospitasari (2003) menyatakan, sumber pemanas yang terlalu lama mati mengakibatkan sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi, sehingga benih dalam telur mati dan dapat mempengaruhi daya tetas telur yang ditetaskan. Anonimous (2005) menyatakan, pada suhu penetasan 32 0C (900F) untuk waktu tiga sampai 4 jam akan memperlambat perkembangan embrio di dalam telur. Kelembapan yang terlalu tinggi akan menyebabkan anak ayam dalam telur sulit untuk memecahkan kulit telur, walaupun dapat dipecahkan anak ayam tetap berada dalam telur dan dapat mati dalam cairan telur. Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika kelembaban terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur.
Hasil penelitian Siahaan (2006) membuktikan semakin lama lampu mati daya tetas puyuh semakin menurun. Anonimous (2009) menyatakan Induk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas telur tetas sehingga dapat menetas dengan baik. Jenis yang berbeda akan memiliki daya tetas yang berbeda. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh lampu mati terhadap daya tetas ayam potong local (APL).
1.1 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pengaruh lama lampu mati pada mesin tetas terhadap daya tetas telur Ayam Potong Lokal.

1.2 Hipotesis
            Semakin lama lampu mati pada mesin tetas akan menurunkan daya tetas telur Ayam Potong Lokal.

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ayam Potong Lokal (APL)
Ayam Potong Lokal (APL) atau sering disebut dengan ayam hibrida lokal adalah ayam hasil persilangan antara pejantan ayam kampung dengan ayam ras petelur betina (Muryanto dkk, 2004). Ayam ini diproduksi sebagai ayam potong (lokal), dimaksudkan untuk memenuhi permintaan masyarakat yang tinggi akan daging unggas khususnya daging ayam kampung. Produk ayam kampung baik berupa telur dan daging sangat disukai oleh masyarakat, namun ayam kampung sendiri tidak dapat diproduksi dalam jumlah besar, karena laju reproduksi dan pertumbuhannya lambat.
Hasil persilangan antara pejantan kampung dengan betina ras petelur pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan ayam kampong, selain itu tubuh dan karkasnya mirip ayam kampung serta tekstur daging sama dengan ayam kampung (Prawirodigdo, S., D dkk, 2001). Masakan dari ayam hasil persilangan baik dalam bentuk segar maupun beku ternyata mempunyai kualitas yang sama dengan masakan ayam kampung (Muryanto dkk 2002).

2.2 Penetasan Telur dengan Mesin Tetas
2.2.1 Mesin Tetas
            Tujuan penetasan dengan mesin tetas adalah untuk menetaskan telur tetas dalam jumlah banyak pada waktu yang sama sesuai dengan waktu dan rencana yang dikehendaki (Rasyraf, 1987).
            Pada dasarnya penetasan dapat dilakukan secara alami ( dengan induk unggas sendiri) dan secara buatan (dengan alat penetas pengganti induk). Penetasan secara alami untuk memperbanyak populasi telah dilakukan sejak adanya pemeliharaan unggas. Alat penetasan buatan dikenal dengan mesin tetas (Farry, 2001)

2.2.2 Suhu dan Kelembapan
            Suhu yang sesuai untuk penetasan telur ayam didalam mesin tetas diatur dengan kaidah-kaiadah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101 0C) pada hari pertama hingga hari ke-15 dan pada hari 16 hingga menetas suhu dinaikkan menjadi 39 0C (102 0F) dan kelembapan yaitu 60% pada hari pertama sampai hari ke-15 dan pada pada hari ke 16 hingga menetas dinaikkan menjadi  70%. Pengaturan suhu dan kelembapan didalam incubator dilakukan satu hari sebelum telur dimasukkan (Mayun dan Nugroho, 1981).
            Suhu yang diukur dengan thermometer ini memegang peranan yang sangat penting dalam penetasan telur karena hal ini berhubungan dengan faktor perkembangan embrio di dalam telur.suhu yang sedikit lebih rendah untuk priode yang tidak terlau lama tidak mempengaruhi dalam embrio kecuali memperlambat perkembangannya untuk embrio muda. Hal yang sediit berbeda jika terjadi pada embrio yang lebih tua karena pengaruhnya akan sedikit lebih berkurang. Jika suhu terlalu rendah dari kaidah penetsan telur ayam maka akan mempengaruhi embrio dalam hal perkembangan oragan-organnya yang berkembang tidak secara proporsional (Anonimous, 2009). Wiharto (1988) menyatakan, apabila suhu terlalu rendah umumnya menyebabkan kesulitan menetas dan pertumbuhan embrio tidak normal karena sumber pemanas yang dibutuhkan tidak mencukupi. Anonymous (2009) menyatakan, pada suhu penetasan 32 0C (90 0F) untuk waktu tiga sampai empat jam akan memperlambat perkembangan embrio pada ayam didalam telur. Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika suhu didalam mesin tetas dibawah normal maka telur akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan.
            Kelembapan udara (humidity) juga penting dalam proses pemetasan karena hal ini menjaga telur dari kehilangan terlalu banyak atau terlalu sedikit kelembabannya selama proses penetasa telur. Kelembaban udara yang diukur dengan hygrometer ini harus dijaga karena ketidakakuratan dalam penerapan kelembaban udara dapat dipengaruhi secara signifikan keberhasilan penetasan telur (anonimous, 2009).
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika kelembaban terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur. Anonymous (2009) menyatakan, kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam didalam telur sulit untuk memecahkan kulit telur dan kalaupun dapat dipecahkan, anak ayam tetap berada di dalam telur dan dapat mati tenggelam dalam cairan telur itu sendiri.

2.2.3 Pemutaran Telur
            Imanah dan Maryam (1992)  menyatakan, pemutaran telur dilakukan secara mendatar yaitu bagian ujung yang tumpul selalu berada diatas. Tidak dilakukannya pemutaran dapat menyebabkan anan-anak ayam menetas dengan kaki pengkor.
            Listiyowati dan Roospitasari (2003) menyatakan, pemutaran telur puyuh dilakukan sebanyak dua kali sejak hari ke tiga hingga hari ke-13. Widyarti (1998) menyatakan bahwa, pemutaran telur itik dilakukan paling sedikit tiga atau sampai empat kali sehari semalam. Menurut Anonimous (2009), pemutaran telur ayam minimal tiga sampai lima kali sehari dengan waktu pemutaran dapat ditentukan sendiri. Pemutaran telur yang tidak sempurna juga menyebabkan telur tidak menetas sebab keterlambatan memutar mengakibatkan benih/embrio menempel atau lengket pada satu sisi kulit akibat daya tarik bumi dan mati (Sudaryani dan santoso,1994)



2.3 Fertiltas Telur
Fertilitas merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan dalam usaha penetasan karena hanya telur yang fertile yang dapat menghasilkan DOC. Fertilitas adalah persentase dari telur-telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio dari sejumlah telur yang ditetaskan. Untuk mengetahui fertile atau tidaknya telur, dilakukan peneropongan  (Setiadi, 1995).
            Card et al (1961) disitasi Brata (1989) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan fertilitas adalah persentase telur-telur yang memperlihatkan adanya perkembangan embrio, tanpa memperhatikan apakah telur-telur tersebut menetas atau tidak dari sejumlah telur yang dieramkan. Selanjutnya dinyatakan bahwa dengan mengetahui fertilitas maka dapat dibedakan telur-telur yang bertunas atau tidak. Kedaan ini menguntungkan pembibit, tetapi fertilitas justru tidak dapat ditentukan dulu sebelum telur-telur ditetaskan. Ditambahkan juga bahwa fertilitas yang tinggi diperlikan untuk menghasilkan dan meningkatkan daya tetas.
            Fertilitas dipengaruhi jumlah jantan dan betina dalam satu kandang. Perbandingan jantan dan betina yang makin kecil akan menurunkan fertilitas. Fertilitas yang tinggi akan dicapai jika dalam satu kandang terdapat jantan dan betina dengan perbandingan 1:3 (Rasyaf, 1994). Listiyowati dan Roospitasari (1995) menambahkan bila terlalu banyak pejantan dalam satu kandang, maka pejantan tersebut dikhawatirkan bisa merusak betina karena terlalu sering dikawini. Selain itu, pejantan-pejantan ini akan menghabiskan banyak pakan.sdangkan bila jumlah betina terlalu banyak, banyak telur yang tidak terbuahi atau infertil sehingga tidak bisa digunakan sebagai telur tetas.

2.4 Berat Telur
            Menurut rasyraf (1984) seleksi telur telur tetas lebih dulu diutamakan pada berat telur karena akan mempengaruhi berat awal DOC, semakin berat telur tersebut maka DOC yang dihasilakan juga akan semakin berat.
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan bahwa berat telur sangat berpengaruh pada persentase daya tetas telur, telur  yang besar akan menghasilkan DOC anak ayam umur sehari relative lebih berat, pertumbuhan bulunya lebih cepat dan kematian lebih rendah.

2.5 Parameter Keberhasilan Penetasan
2.5.1 Daya Tetas
            Daya tetas dihitung dengan membandingkan jumlah telur yang menetas dengan jumlah seluruh telur yang fertil. Semakin tinggi jumlah telur yang fertil dari jumlah telur yang ditetaskan akan dihasilkan persentase daya tetas yang tinggi pula. Menurut North (1980), fertilitas yang tinggi diperlukan untuk menghasilkan daya tetas yang tinggi.salah satu faktor yang mempengaruhi fertilitas telur ialah rasio seks pejantan dan induk betina.
Rumus daya tetas telur adalah sebagai berikut:
Jumlah telur yang menetas
Daya Tetas      =                                                          x 100%
Jumlah telur fertile
            Rendahnya daya tetas bukan hanya disebabkan oleh tata laksana pemeliharaan, tetapi tehnik penetasan sangat penting dalam meningkatkan keberhasilan dalam usaha penetasan. Hal ini dapat terjadi ketika proses penetasan berlangsung sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi karena matinya listrik. Listiowati dan Roospitasari (2003) menyatakan, jika sumber panas ini terlalu lama mati akan menyebabkan perubahan suhu yang dapat mematikan benih dalam telur. Anonimous (2009) menyatakan, temperature yang terlalu rendah dapat menghambat perkembangan embrio, pada suhu penetasan 90 0F (32 0C) untuk waktu tiga samapai 4 jam akan memperlambat perkembangan embrio ayam di dalam telur.

2.5.2 Bobot Tetas
            Bobot tetas adalah bobot DOC setelah menatas yang bulu badannya telah kering dan sebelum diberi makan atau minum untuk pertama kalinya. Kaharudin (1989) Menyatakan bahwa, salah satu faktor yang mempengaruhi bobot tetas yaitu bobot telur tetas. Sudaryani dan santoso (1994) menyatakan, bobot telur tetas merupakan faktor utama yang mempengaruhi bobot tetas, selanjutnya dikatakan bobot tetas yang normal adalah dua per tiga dari bobot telur dan apabila bobot tetas kurang dari hasil perhitungan tersebut maka proses penetasan bias dkatakan belum berhasil.
            Menurut Rasyraf (1984), seleksi telur tetas lebih dulu diutamakan pada bobot telur karena alan mempengaruhi bobot awal DOC, semakin berat telur tersebut maka DOC yang dihasilkan juga semakin berat.
2.5.3 Waktu menetas
            Ukuran telur tetas dapat mempengaruhi waktu menetas. Roospitasari dan listiyowati (2003) menyatakan bahwa, telur yang kecil akan menetas lebih cepat dibandingkan telur yang besar, karena telur yang besar dan yang kecil mempunyai luas permukaan yang berbeda sehingga daya serap panasnya pun akan berbeda.
            Suhu dan kelembapan mesin juga mempengaruhi lamanya waktu menetas telur. Suhu yang sesuai untuk penetasan telur puyuh dalam mesin tetas diatur sesuai dengan kaidah-kaidah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101F) pada hari pertama sampai hari ke-15 dan hari ke-16 hingga menetas yaitu 39 0C (102 0F) dan kelembapan 60% mulai dari hari pertama hngga hari ke-15 dan 70% pada hari ke-16 hingga telur ayam menetas.
            Imanah dan Maryam (1992) menyatakan, jika suhu dibawah normal maka telu akan menetas lebih lama dari waktu yang ditentukan dan apabila suhu dalam mesin tetas diatas normal, maka waktu menetas lebih awal dari waktu yang ditentukan. Sedangkan kelembapan terlalu tinggi akan mencegah penguapan air dari dalam telur sehingga sulit dalam memecahkan kulit telur. Anonimous (2005) menyatakan bahwa, kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan anak ayam dalam telur akan sulit memecahkan kulit telur.

2.5.4 Kematian Embrio (mortalitas embrio)
            Menurut Manyun dan Nugroho (1981), kematian embrio banyak terjadi dalam keadaan kritis selama waktu penetasan. Ada dua fase kritis embrio dalam penetasan, yaitu pada tiga hari pertama masa penetasan dan tiga hari sebelum menetas. Mortalitas embrio dapat ditentukan pada hir penetasan denan pemecahan telur yang tidak menetas. Hal ini dapat diketahui dari tidak menetasnya telur pada ahir penetasan.
            Hasil tetasan yang normal dari sebuah mesin tetas adalah 75% sampai 85%. Bila ahasilnya kurang dari hasil tersebut, kemungkinan disebabkan selama priode penetasan terjadi perubahan temperature yang besar (Mayun dan Nugroho, 1981). Hal ini dapat terjadi ketika proses penatasan berlangsung sumber panas yang dibutuhkan tidak mencukupi dikarenakan matinya listrik. Rospitasari dan Listiowati (2003) menyatakan, jika sumber pemanas terlalu lama mati akan menyebabkan perubahan suhu yang dapat mematikan benih dalam telur.

III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
            Penelitian dilaksanakan pada tanggal………. Sampai ……….2011, di Kota Bengkulu.

3.2 Alat dan bahan
            Penelitian menggunakan 360 butir telur ayam kampung yang didapat dari satu peternak ayam kampung sebagai materi penelitian. Telur tersebut ditetaskan dalam 4 unit mesin tetas (incubator) yang terbuat dari tripleks dengan sumber panas yang digunakan adalah lampu listrik (5 watt) sebanyak 6 buah per mesin tetas, timbangan analitik O-Hous dengan kapasitas 300 gram, air hangat, kapas, alcohol 70%, generator dan peralatan lain yang mendukung.

3.3 Variabel yang diamati
-          Rataan persentase daya tetas, dihitung dengan rumus;

Jumlah telur yang menetas
Daya Tetas      =                                                          x 100%
Jumlah telur fertile
-          Rataan bobot tetas, adalah bobot DOC yang ditimbang saat baru menetas dan bulunya sudah kering, yaitu saat DOC sekitar 10 jam.
-          Rataan persentase kematian embrio dihitung dengan rumus

Jumlah telur yang mati
                                                                                                x 100%
Jumlah telur yang fertile
-          Rataan waktu menetas dihitung berdasarkan jumlah jam sejak telur masuk mesin tetas sampai waktu DOC keluar dari cangkang telur.
-          Suhu dan kelembadan diukur setiap hari pada ahir perlakuan pemadaman lampu.

3.4 Tahapan Penelitian
3.4.1 Tahap persiapan
·         Mengumpulkan telur yang akan ditetaskan 4 hari sebelum penetasan dilaksanakan.
·         Mensanitasi mesin tetas dan mengatur suhu (38,3 0C) dan kelembapan mesin tetas (60%) (Mayun dan Nugroho, 1981).
·         Membersihkan telur dengan menggunakan kapas yang dibasahi air hangat kuku.
·         Membersihkan telur dengan menggunakan kapas yang dibasahi alcohol 70%.
·         Menimbang telur yang akan ditetaskan di dalam mesin tetas.

3.4.2 Tahap Pelaksanaan
·         Memasukkan telur yang akan ditetaskan kedalam mesin tetas.
·         Mengatur suhu kelembapan mesin tetas sesuai dengan kaidah-kaidah penetasan yaitu suhu 38,3 0C (101 0F) pada hari pertama hingga hari ke 15 dan hari ke 16 hingga menetas suhu dinaikkan menjadi 39 0C (102 0F), kelembapan diatur 60% pada hari pertama hingga ke-15 sampai 70% pada hari ke 16 sampai menetas.
·         Memutar telur sebanyak 2 kali per hari yaitu pada hari (pukul 07.00WIB) dan sore hari (pukul 18.00 WIB), mulai hari kelima penetasan hingga hari ke-15 (listiyowati dan roospitasari,2003)
·         Melakukan perlakuan pemadaman lampu mesin tetas mulai hari ke-5 dan hingga hari ke 15. Masa perlakuan ditentukan untuk menghindari pengaruh masa kritis pertama dan kedua.
·         Mengamati suhu dan kelembapan setiap hari saat ahir perlakuan pemadaman lampu.
·         Menghitung jumlah telur yang menetas dan mati (dalam telur dan saat piping) dari sejumlah telur yang fertile untuk mendapatkan daya tetas dan kematian embrio.
·         Menghitung waktu menetas berdasarkan jumlah jam sejak telur masuk mesin tetas sampai waktu anak ayam keluar dari cangkang telur.
·         Menimbang setiap anak ayam saat baru menetas dan bunya sudah kering atau saat umur DOC sekitar 10 jam setelah menetas.

3.5 Analisis Data
            Penelitian  terdiri 4 perlakuan pemadaman lampu dan setiap perlakuan terdiri 3 ulangan, setiap ulangan terdiri 30 butir telur sehingga setiap perlakuan terdiri 90 butir telur. Perlakuan lama pemadaman lampu sebagai berikut :
            P1: Lampu mati selama 0 jam/hari
            P2: Lampu mati selama 2 jam/hari (09.00-11.00)
            P3: Lampu mati selama 3 jam/hari (09.00-13.00)
            P4: Lampu mati selama 4 jam/hari (09.00-15.00)

Tabel skema mesin tetas
Data daya tetas, kematian embrio, bobot tetas dan waktu menetas yang diperoleh diuji secara statistik dengan rancangan acak lengkap (RAL). Bila hasil sidik ragam menunjukkan perbedaan nyata, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT), untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Data suhu dan kelembapan dianalisis secara deskriptif.







DAFTAR PUSTAKA

Anonimous . 2009. Induk Menentukan Daya tetas. http://Aspan-gabe.com/persiapan
Anonimous. 2005. Tips Penetasan Dan Setelah Penetasan. http://www.glory-farm.com/ptetas_mesin/tips_tetas.htm.
Brata, B. 1989. Pengaruh frekwensi selama penyimpanan telur tetas puyuh (Coturnix-coturnix Japonica) terhadap daya tetas. Laporan penelitian. Universita Bengkulu.
Farry. 2001. Membuat dan Mengelola Mesin Tetas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Imanah dan maryam. 1992. Mesin Tetas dan System Pemeliharaan Ayam. C.V. Bahagia Pekalongan.
Kaharudin, D. 1989. Pengaruh bobot telur tetas terhadap boot tetas, daya tetas, pertambahan berat badan dan angka kematian sampai umur 4 minggu pada puyuh telur (Coturnik-coturnik japonica). Laporan penelitian. Universitas Bengkulu.
Listiowati, E. dan Roospitasari, K. 1995. Puyuh, tata laksana budidaya secara komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Listiowati, E. dan Roospitasari, K. 2003. Tata laksana budidaya puyuh secara komersil. Penebar swadaya. Jakarta.
Rasyraf, M. 1984. Pengelolaan Penetasan. Kanisius. Yogyakarta.
Rasyraf, M. 1995. Beternak Ayam Kampong. Karya Anda. Surabaya.
Rasyraf, M. 1987. Memelihara Burung Puyuh. Kanisius. Yogyakarta.
Setiadi, P. 1995. Perbandingan berbagai metode penetasan telur ayam kedu hitam daerah pengembangan Kalimantan Selatan. Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan. Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor.
Siahaan, J. 2006. Pengaruh Lama Lapu Mati Pada Mesin Tetas Terhadap Daya Tetas Telur (cotumix-cotumix japonica). Skripsi Program Studi Produksi Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu
Sudaryani, T.H, dan Santoso. 1994. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya. Jakarta.
Muryanto, T.Paryono, Ernawati, P.S. Hardjosworo, H. Setijanto dan L.S. Graha. 2004. Prospek Ayam Hasil Persilangan Ayam Kampung Dengan Ras Petelur Sebagai Sumber Daging Unggas Yang Mirip Ayam Kampung. Seminar Teknologi Pangan Hewani. UNDIP Semarang.
Nugroho dan I. Mayun. 1981. Beternak burung puyuh. Eka Offset. Semarang.
Prawirodigdo, S., D. Pramono, Ernawati, B. Budiharto, P. Lestari, Sugiono, G. Sejati, Prawoto, S. Iskandar dan D. Zaenudin. 2001. Pengkajian Partisipatif Persilangan Ayam Pelung x Ayam Ras Petelur dan Ayam Lokal. Laporan Hasil Pengkajian. BPTP Jawa Tengah.
Wiharto. 1988. Petunjuk Pembuatan Mesin Tetas. Lembaga Penerbit. Universitas Brawijaya.
Windyarti, S. S. 1998. Beternak itik tanpa air. Penebar Swadaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar